by

SEJARAH adalah AKAR

Sebuah refleksi bersahaja tentang sejarah, pada perayaan hari kemerdekaan ke-74, Republik Indonesia, by Ugie, 17-08-2019, pkl 09.00 wib )

Sejarah adalah akar. Sejarah adalah rangkaian fakta-fakta objektif dari peristiwa dan kejadian pada masa lalu yang bukan saja memberi dampak bagi masa kini dan masa mendatang, namun juga membangun pondasi tata nilai bagi peradaban tertentu.

Karena fakta atas periatiwa/kejadian, pasti ada pelaku dan motif/spirit yang menggerakkan peristiwa.

Jadi sejarah bukan lah cerita legenda, bukan pula cerita fiksi (karangan) semata (yang cenderung dipoles dan dibagus2in disana sini). Oleh karenanya sejarah harus berbasis pada bukti-bukti otentik yang bisa diuji secara ilmiah.

Dengan begitu, apakah lantas sejarah dikategorikan sebagai sebuah disiplin ilmu yang statik, berhenti dan tidak berkembang lagi?

Tentu saja tidak. Karena lazimnya, koreksi terhadap sejarah selalu sangat terbuka dilakukan jika ditemukan bukti-bukti otentik baru, baik yang bersifat komplementer (melengkapi, memperkaya), maupun substitusi (mengganti narasi sejarah lama dengan narasi baru yang memiliki dasar otentisitas yang lebih kuat).

Mengapa bisa terjadi? Karena by time, kemampuan manusia utk menemukan fakta dan bukti sejarah secara keseluruhan pada waktu yang sama, amat lah terbatas, terlebih jika bukti-bukti otentik itu tersebar di banyak tempat, bahkan sering berpindah-pindah “tangan” — karena dalam hal-hal tertentu, bukti otentik peristiwa sejarah bersifat sangat sensitif dan bisa menjadi trigger (pemicu) perubahan landskap sosial-politik sebuah bangsa — tidak terkonsolidasi, malahan dalam banyak hal, benda-benda peninggalan sejarah atau bukti-bukti otentik sejarah justru menjadi “komoditas” bisnis terutama di kalangan “kolektor”, karena memiliki nilai komersial yang sangat tinggi.

Sampai detik ini, lembaga-lembaga filantropi dunia yang bergerak di bidang “kesejarahan” terus bermunculan, yang disponsori oleh lembaga2 internasional reputable atau perusahaan-perusahaan multi-nasional yang makin sadar pentingnya menggali sejarah untuk menemukan akar sejarah peradaban.

Meski sejarah selalu memberi peluang untuk ditafsir ulang, dibaca dengan sudut yang berbeda, dan menjadi sumber referensi penting ketika kita akan merumuskan ketentuan atau model/sistem baru yang bersifat mengikat, acapkali sejarah dilupakan karena dianggap old fashion, bagian dari masa lalu.

Kekeliruan pandangan seperti itu akan berakibat fatal bagi sebuah peradaban, karena dalam sejarah dan peristiwa masa lalu ada nilai2 intrinsik fundamental yang sesungguhnya menjadi dasar dari apa yang terjadi pada masa kini, sementara masa kini adalah titik tolak bagi masa depan.

Selalu ada rangkaian historisitas sebuah peradaban, sebuah bangsa, sebuah masyarakat yang menandai proses kontinum (berkesinambungan) proses kebudayaan/peradaban yang pada akhirnya akan bermuara di hulu peradaban, atau akar dari kehidupan itu sendiri.

Secara simplistis, penggalian (kembali) situs dan bukti sejarah, termasuk bukti-bukti arkeologis dan naskah-naskah kuno yang saat ini makin diminati, sesungguhnya karena kita hendak menjawab pertanyaan yang sangat sederhana, pertanyaan hulu dus skaligus akar (root), siapa sesungguhnya kita, dan akan menuju kemana?

Sabtu, 17 Agustus 2019
Dirgahayu 74 Tahun Republik Indonesia

Oleh/jarrakpos/elw.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed